
Diskusi International Women’s Day di UMP Soroti Krisis Imperialisme dan Kekerasan Berlapis terhadap Perempuan
Bhaskara.id – Momentum International Women’s Day dimanfaatkan komunitas Lapak Baca Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) untuk menggelar diskusi publik bertajuk “Krisis Imperialisme dan Kekerasan Berlapis pada Perempuan”, Kamis, 12 Maret 2026 di depan Auditorium UMP. Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri, yakni Lina Turrohmaniyah dan Khanan Saputra, dengan moderator Dwi Kharisa Putri.
Diskusi yang dihadiri sekitar 50 peserta tersebut membahas keterkaitan antara dinamika politik global dengan realitas kekerasan yang dialami perempuan. Selain itu, forum ini juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memperkuat kesadaran kritis terhadap persoalan sosial yang kerap luput dari perhatian.
Pemateri pertama, Lina Turrohmaniyah, menyoroti persoalan kekerasan berlapis terhadap perempuan yang masih menjadi realitas di berbagai ruang kehidupan. Ia menjelaskan bahwa perempuan sering kali mengalami kekerasan tidak hanya dalam satu bentuk, tetapi secara simultan dalam berbagai dimensi sosial.
Menurutnya, pemahaman mengenai kekerasan berlapis penting untuk membuka kesadaran mahasiswa terhadap kompleksitas persoalan gender yang terjadi di masyarakat.
“Diskusi ini berkaitan dengan upaya meningkatkan literasi dan kesadaran anak muda, khususnya mahasiswa, terhadap isu-isu politik dan persoalan kekerasan terhadap perempuan,” ujarnya.
Sementara itu, pemateri kedua, Khanan Saputra, mengulas persoalan tersebut dari perspektif yang lebih luas, yakni analisis politik internasional terkait krisis imperialisme. Ia menjelaskan bahwa sistem global saat ini sedang menghadapi berbagai kontradiksi yang memunculkan ketimpangan dan konflik di berbagai wilayah.
Menurut Khanan, krisis tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi seperti overproduksi, tetapi juga kontradiksi antarnegara imperialis maupun antara negara imperialis dengan negara berkembang yang berada dalam pengaruhnya.
“Krisis itu muncul dari berbagai kontradiksi, baik antarnegara imperialis maupun antara negara imperialis dengan negara berkembang yang berada di bawah pengaruhnya,” jelasnya.
Ia menilai bahwa kondisi global tersebut pada akhirnya berdampak pada kehidupan masyarakat, termasuk memperkuat kerentanan kelompok marginal seperti perempuan.
Lebih dari sekadar forum diskusi, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mempertahankan ruang literasi alternatif di lingkungan kampus. Khanan menegaskan bahwa keberlanjutan forum seperti ini menjadi penting untuk menjaga tradisi berpikir kritis di kalangan mahasiswa.
“Lapak Baca selama ini berupaya konsisten mengadakan diskusi setiap minggu. Diskusi seperti ini bisa menjadi pemantik pikiran bagi mahasiswa dan masyarakat yang hadir sehingga kesadaran kritis mereka dapat tumbuh,” katanya.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dari forum diskusi tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat berlanjut pada praktik sosial yang berpihak pada masyarakat.
“Harapannya pengetahuan yang lahir dari diskusi bisa mendorong praktik nyata untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, khususnya kelompok rakyat bawah,” tambahnya.
Kegiatan diskusi berlangsung dengan alur pemaparan materi dari kedua pemateri yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama peserta. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang muncul terkait isu kekerasan terhadap perempuan maupun dinamika politik global.
Bagi penyelenggara, konsistensi forum diskusi menjadi kunci utama keberlanjutan gerakan literasi di ruang publik kampus.
“Harapannya forum ini terus berjalan dan menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa, meskipun tidak berada di ruang kelas. Dari ruang-ruang seperti ini kita bisa menumbuhkan critical thinking dan kepekaan terhadap berbagai persoalan sosial,” ujar Khanan.
Melalui diskusi tersebut, Lapak Baca UMP berharap mahasiswa tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika sosial, tetapi juga mampu membaca realitas secara kritis serta mengambil peran dalam mendorong perubahan sosial.
(LY/BHAS)