Bhaskara.id – Momentum Ramadhan bukan sebagai halangan, Sabtu, 7 Maret 2026 para aktivis yang berkolaborasi membuat pengadaan kajian umat ke-2 bertempat di Distrik Kober. Kolaborasi berasal dari Justice Project, Aksi Kamisan, Ramah Perempuan, dan PMII UNSOED. Kegiatan ini disambut penuh antusias oleh masyarakat umum, menampilkan 3 narasumber Lutfi Kalbu (Dosen Fakultas Hukum UNSOED), Miftahul Huda ( LBH Yogyakarta), dan Ngindana Aghists (Persma UIN SAIZU 2024).

Kajian Umat mengangkat tema kesadaran kritis generasi muda di tengah pembungkaman dan kriminalisasi aktivis, yang dinilai semakin relevan dengan kondisi saat ini.

 

Sidiq salah satu pegiat aksi kamisan mengungkap 700 mahasiswa mengalami pembungkaman, “Pasca gelombang aksi 30 Agustus di Banyumas dan secara nasional, hampir 1.000 mahasiswa mengalami represi, sekitar 700 di antaranya bahkan ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Sidiq.

 

Tujuan utama pengadaan program ini melihat lara aktivis sangat-sangat dibungkam dan dibatasi aksesnya. Kajian umat ini, membuka ruang diskusi sebagai upaya menjaga ruang hidup masyarakat Banyumas. Pada akhirnya kajian ini hadir sebagai penguat para aktivis bahwa kita saling melindungi.

“Kita menginisiasi adanya ruang diskusi ini karena kita melihat ruang-ruang diskusi khususnya di kabupaten Banyumas sudah mulai sedikit, jadi kita mencoba membuka ruang ruang baru dengan isu yang mungkin lebih hangat”. Ucap Sidiq.

Kajian Umat sudah terlaksana 2 kali, sebelumnya kajian umat membahas mengenai Gunung Slamet tentang persoalan agraria dan berkolaborasi dengan banyak pihak salah satunya Save Slamet.

Kegiatan tersebut berlangsung sembari menunggu waktu berbuka dihadiri sekitar 50 orang. Dengan kondisi cuaca hujan, tidak menurunkan antusias para mahasiswa dari berbagai universitas untuk hadir. Aghists sebagai narasumber dari Persma UIN SAIZU menyampaikan antusias nya, Aghists mengatakan pada Kajian Umat ini bersama saling belajar mengenai pendidikan kritis mahasiswa di era banyaknya mahasiswa yang dibungkam.

Dengan tagline “Marhaban Ya Melawan” diharapkan dapat memicu semangat para aktivis dan masyarakat Banyumas untuk tetap mengaktifkan wadah ruang diskusi masyarakat khususnya di Kabupaten Banyumas. Kajian umat adalah salah satu respon untuk keadilan, kemanusiaan dan kesejahteraan yang masih perlu menjadi fokus utama untuk ditegakkan sampai hari ini.

Keberlanjutan menjadi harapan program Kajian Umat tetap terlaksana pasca lebaran. Kajian Umat menjadi sangat penting guna menyadarkan kesadaran kritis masyarakat agar terus membuat gelombang kritik, gelombang perlawanan dari adanya pembungkaman dan kriminalisasi. (MF/AN/BHAS).