HASIL RISET EFEKTIVITAS PRESENSI DI UMP MENGGUNAKAN QR CODE-2. Bhaskara.id/Div.Kreatif

LPM Bhaskara mengadakan riset mengenai Efektivitas Presensi di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Menggunakan QR Code. Populasi yang ditentukan adalah seluruh Mahasiswa UMP.

Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Proportionate Stratified Random Sampling. Tim Riset Bhaskara menggunakan teknik sampling (metode pengambilan data) jenis ini karena persebaran Mahasiswa di UMP memiliki unsur yang tidak homogen, yaitu terdiri dari 10 fakultas dan setiap fakultas memiliki jumlah mahasiswa yang berbeda-beda namun tetap proporsional.

Mengacu pada data jumlah total mahasiswa dari website BKA-UMP, ditemukan hasil bahwa jumlah sampel yang dibutuhkan secara keseluruhan sebanyak 389 responden yang sudah terbagi secara merata pada masing-masing fakultas, kecuali untuk Fakultas Kedokteran―dari informasi yang diperoleh Tim Riset―memang tidak menerapkan presensi menggunakan QR Code.

Dari 414 mahasiswa yang mengisi, sebanyak 296 orang menyatakan bahwa presensi menggunakan QR Code memudahkan mahasiswa. Sedangkan untuk 118 orang lainnya menyatakan tidak.

Mengenai alasan mengapa presensi menggunakan QR Code memudahkan, terdapat banyak alasan yang kami dapat mengenai mengapa presensi menggunakan QR Code memudahkan mahasiswa. Apabila diurutkan mulai dari jawaban yang paling banyak, 55% dari mahasiswa yang mengisi kuesioner ini menjawab karena simple, 13% karena praktis hanya memerlukan scan, 12% karena efisien, 11% karena cepat dan hemat waktu, dan 9% menyebutkan alasan lainnya seperti mudah diakses, tidak perlu mengakses google, dan dapat melihat presentase kehadiran.

Mengenai alasan mengapa presensi menggunakan QR Code tidak memudahkan, menunjukan sebanyak 46% dari mahasiswa menyatakan bahwa tidak semua device mendukung untuk presensi menggunakan QR Code, seperti para pengguna Apple atau iOS *(update terbaru setelah riset ini keluar bahwa presensi menggunakan QR Code sudah tersedia pada pengguna iOS). Sebanyak 40% menyatakan bahwa presensi menggunakan QR kurang efektif, presensi yang dilakukan tidak ter-recorded (7%), dan terdapat peluang terjadinya kecurangan seperti titip absen pada teman (7%).

Berkaitan dengan kendala yang dialami selama presensi menggunakan QR Code, sebanyak 51% dari mahasiswa yang mengisi kuesioner ini menyatakan tidak mengalami kendala selama presensi sedangkan 49% atau 204 mahasiswa lainnya menyatakan mengalami kendala saat melakukan presensi menggunakan QR Code.

Dari 204 responden yang mengalami kendala selama presensi, menyebutkan kendala yang dialami selama melakukan presensi antara lain QR Code atau barcode tidak terbaca (35%), smartphone tidak mendukung (25%), terdapat kendala dengan aplikasi (25%), terkendala sinyal/wifi (9%), kendala teknis (9%), tidak memiliki 2 device saat melakukan pembelajaran secara daring (3%).

Mengenai seberapa sering mengalami kendala saat melakukan presensi, sebanyak 45% dari mahasiswa yang mengisi kuesioner ini menyatakan jarang mengalami kendala selama presensi menggunakan QR Code, 27% menyatakan cukup sering mengalami kendala, 22.1% menyebutkan selalu mengalami kendala, dan 6% lainnya menyatakan tidak pernah mengalami kendala saat melakukan presensi mneggunakan QR code.

Pada bagian tingkat kecurangan presensi menggunakan QR Code, sebanyak 60 orang (14.5%) menyebutkan bahwa tingkat kecurangan presensi menggunakan QR Code rendah, 63 orang (15.12%) cukup rendah, 117 orang (28,3%) sedang, 91 orang (22%) tinggi, 83 orang (20%) sangat tinggi.

Berkaitan dengan tidak adanya keterangan izin atau sakit pada presensi QR code, dominan mahasiswa yang mengisi kuesioner ini menyebutkan bahwa sebaiknya pada presensi QR Code diberikan keterangan izin atau sakit (30%). Tidak adanya keterangan izin atau sakit menjadikan aplikasi presensi ini kurang lengkap (3%), dapat menyulitkan mahasiswa (13%), merugikan mahasiswa (7%), meningkatkan kecurangan (7%)―mahasiswa yang tidak hadir dapat menitip presensi kepada temannya, serta membingungkan mahasiswa (1%) saat melakukan presensi. Hal ini membuat presensi menggunakan QR Code kurang efektif (6%) dan kurang efisien (2%).

Meskipun begitu terdapat 12% atau 45 orang menyatakan bahwa tidak adanya keterangan sakit atau izin pada aplikasi presensi QR Code bukanlah masalah, sebanyak 7% atau 28 orang mengatakan bahwa terdapat alternatif lain seperti menghubungi dosen pengampu atau PJ mata kuliah apabila tidak bisa hadir karena sakit atau izin.

Mengenai efektivitas presensi menggunakan QR Code, sebanyak 104 orang (25,1%) dari total mahasiswa―yang mengisi kuesinoer―memilih kurang efektif, 234 (56,5%) memilih cukup efektif, 52 (12.6%) memilih sangat efektif, dan 24 orang (5,8%) dari total responden memilih tidak efektif.

Berkaitan dengan kepuasan mahasiswa terhadap penggunaan presensi QR Code, sebanyak 23 orang (5,6%) memilih tidak puas, 102 orang (24,6%) memilih kurang puas, 237 orang (57,2%) memilih cukup puas, dan 52 orang (12,6%) memilih sangat puas.

Adapun beberapa masukan dan saran dari mahasiswa yaitu untuk kedepannya mungkin bisa diperbaiki lagi aplikasi presensi UMP baik dari segi sistem operasinya maupun fitur-fiturnya, lebih dikembangkan lagi dengan menambahkan fitur untuk keterangan izn/sakit, dari pihak pengelola bisa mengawasi lebih lanjut terkait kecurangan dalam penggunaan QR Code karena ada beberapa mahasiswa yang menitipkan presensi, mungkin untuk presensi dapat menggunakan finger print untuk meminimalisir kecurangan selama presensi.